Buku Filosofi Naif Kehidupan Dunia Cyber adalah kumpulan tulisan Onno W Purbo yang merupakan refleksi sejarah perkembangan Dunia Internet di Indonesia. Meski ada beberapa data yang sudah tidak relefan lagi namun buku ini bisa memberikan banyak informasi terkait era-era awal internet di indonesia. Dalam buku ini pula, tergambar harapan besar Onno W Purbo yang digantungkankan pada internet.

Untuk sejarah internet, Onno W Purbo menggambarkan bagaimana pentingnya keberadaan milis (mailing list) yang tentu keberadaannya saat ini sangat tidak akrab dengan pengguna internet generasi Smartphone. Untuk pembahasan tentang milis ini, dipaparkan panjang lebar hasil penelitian seputar eksistensi dan substansi dari milis-milis yang pernah ada (beberapa masih eksis sampe hari ini). Dari penjelasan hasil penelitian tersebut dapat dilihat bagaimana pentingnya keberadaan internet bagi masyrakat dan lebih-lebih bagi para praktisi IT, asumsi yang bisa dibangun dari kesimpulan ini adalah dengan semakin mebaiknya infrastruktur dan kualitas internet saat ini seharusnya masyarakat dan terkhusus praktisi IT di indonesia tentu lebih maju dari zaman awal internet. Pengguna GNU/Linux misalnya, seharusnya bisa semakin banyak karena kualitas internet yang ada saat ini tentu lebih baik jadi masalah ketergantungan GNU/Linux (aplikasi yg idealnya di-install secara online) sudah bisa teratasi, pengguna GNU/Linux seharusnya sudah sangat terbantu dengan kecepatan internet saat ini, berbeda dengan kondisi kondisi yang terjadi di zaman kecepatan internet secara umum masih 512 Kbps (anda bisa membayangkan dengan kecepatan 512 Kbps anda ingin menginstall firefox dengan ukuran file 55,9 MB, tentu dibutuhkan tingkat kesabaran yang tinggi. Itu baru satu aplikasi, bagaimana kalau anda ingin mengupdate OS anda misalnya yang total updatenya 300-an MB, tentu dibutuhkan tingkat kesabaran yang sangat tinggi dan tidak semua orang memiliki tingkat kesabaran yang sangat tinggi dalam berurusan dengan komputer). Ditambah lagi penggunaan Smartphone (yg sudah umum saat ini) yang memang mengharusnya install aplikasi secara online, seharusnya orang-orang sudah sangat bersahabat dengan proses install aplikasi secara online dan seharusnya GNU/Linux (yg dari awal sudah mengidealkan proses install aplikasi secara online) semakin banyak penggunanya. Sebenarnya kalau dilihat dari kacamata pengguna Smartphone, jumlah pengguna GNU/Linux semakin banyak karena OS smartphone yg populer saat ini adalah turunan GNU/Linux (bagian dari Distro GNU/Linux, silahkan dilihat di www.distrowatch.org)

Terkait dengan harapan besar yang digantungkan Onno W Purbo pada internet, seharusnya Onno W Purbo saat ini kecewa karena internet saat ini berada dalam tahapan chaos bukannya semakin membaik guna mendukung penciptaan kondisi masyarakat yang lebih baik. Kondisi chaos tercipta dengan kemunculan teknologi HTML 5 yang memungkinkan semua orang bisa terlihat secara aktif di internet. Website yang awalnya hanyalah migrasi media konfensional (cetak) ke dunia cyber kini telah bertransformasi menjadi sosial media(facebook, twitter, g+, dll), di media sosial inilah dimungkinkan semua orang bisa terlibat secara aktif dalam mengolah atau menciptakan media yang ujung-ujungnya dapat membentuk/mempengaruhi opini publik. Dimungkinkannya orang-orang terlibat aktif di sosial media menciptakan perang terbuka dalam membentuk/mempengaruhi opini publik. Hampir tak ada lagi standar informasi di sosial media, sehingga sangat susah untuk membedakan “mana fiksi/hoax” dan “mana fakta”. Di sosial media, hoax yang diulang-ulang proses pembenarannya akan menjadi sebuah fakta yang kebenarannya tak dapat ditolak lagi, begitupun dengan fakta yang terus menerus disalah-salahkan akan menjadikannya sebuah kebohongan yang terkadang berakhir menjadi sebuah tertawaan. Harapan Onno W Purbo yang sangat besar pada komunitas yang terbentuk secara mandiri di zaman-zaman awal internet juga menjadi tak jelas lagi (blur) karena institusi (yang sering coba diingkri keberadaannya oleh Onno W Purbo) seperti negara, parlemen, politisi, berusaha (atau mungkin telah) terintegrasi dalam dunia cyber bahkan ada upaya mengontrol internet dan menjadi Big Brother di dunia cyber. Harapan Onno W Purbo pada majunya dunia pendidikan yang bertumpu pada internet juga sangat mengecewakan karena saat ini sebahagian besar siswa dan guru di indonesia sudah sadar IT dan dalam proses belajar-mengajarnya sangat bertumpu pada internet namun internet dalam hal ini dijadikan budak yang terus diperas pengetahuan yang dikandungnya, kebiasaan yang tercipta adalah download dan download (download bahan ajar bagi guru dan download bahan tugas bagi siswa) proses belajar menjadi kerdil. Kegiatan belajar menjadi tidak lebih dari baca koran, baca cepat dan garis-garis besarnya saja sehingga tak ada lagi kegiatan belajar secara mendalam. Semakin sedikit orang yang membaca buku-buku daras (buku-buku teori yang tebal-tebal) yang menjamur adalah pembaca resume-resume pemikiran orang lain di blog-blog atau di website (lebih paranya lagi kalau yang dijadikan rujukan adalah postingan-postingan orang di sosial media) yang kemudian dijadikan rujukan satu-satunya. Sebenarnya kebiasaan membaca resume-resume bukanlah hal baru. Dahulu orang membaca enseklopedia untuk membaca resume-resume atau mencari infromasi, namun para pembaca ekseklopedia hanya menjadikan isi enseklopedia sebagai informasi awal untuk mencari lebih jauh dengan membaca referensi-referensi lebih lanjut yang menjadi rujukan dari isi enseklopedia. Jika kebiasaan membaca ekseklopedia ini juga dijadikan kebiasaan oleh para pembaca resume-resume di blog atau di website tentu tak jadi masalah, namun jika berhenti di resume-resume di blog atau di website maka ini adalah masalah besar dalam dunia ilmu pengetahuan.

Pembasan sejarah internet dan harapan pada keberadaan internet untuk membuat tatanan masyarakat menjadi lebih baik harusnya membuat Onno W Purbo mengalami kekecewaan berat dan tertantang untuk membahasakan ulang ide-idenya berdasarkan kenyataan kondisi internet saat ini.

 

Buku Filosofi Naif Kehidupan Dunia Cyber versi PDF 

Iklan