awal pebruari 2003, sekira enam bulan pasca deklarasi KPRM, patrick maghebula – community organizer SDI (slum dwellers international) afrika selatan – mempraktikkan gerakan menabung di pemukiman TPA antang makassar. tepatnya di balai warga milik lsm yapta-umi. setahun kemudian, 2 – 5 pebruari 2004, salah seorang anggota kprm mengikuti exposure afrika selatan bersama perwakilan RMK jaringan upc, atas undangan SDI.

catatan ini dinspirasi oleh kata “ubuntu” pada sistim operasi linux ubuntu. penjelajahan maya thd kata ubuntu, akhirnya sampai pada si patrick itu. dalam satu laporan ringkas hasil kunjungannya ke beberapa kota di indonesia, patrick menulis; “The grassroots groups as well as the NGO facilitators that participated in the program were enthusiastic about the model and its strong potential for a means of social movement”. ttp, pada poin berikut catatannya, dia menulis; “There is a danger of the NGO facilitators in some of the seven cities stifle the enthusiasm of the grassroots groups due to the weak understanding of the intended social implications of the model”. saya sempat buntu juga memahami maksud kalimat patrick yg terakhir itu. kata kuncinya organisas rakyat akar rumput dan media tabungan.

apa yang tertanam dari pelajaran patrick kepada kaum miskin kota di makassar adalah tiga kata yang selalu diungkapkannya, yakni: AMANDLA (power), IMALI (money), NOLWAZI (knowledge). maksudnya, kekuatan komunitas RMK terletak pada organisasi, dana iuran, dan berbagi informasi. inilah spirit kepemimpinan federasi organisasi “kaum gelandangan” (dwellers) yang tersebar 9 kota di benua afrika.

kembali ke soal ubuntu. kata ini berasal dari salah satu dialek Bantu di afrika, yang merupakan cara pandang dunia (“traditional philosophy”) orang afrika dalam hubungan antarmanusia. faham ubuntu meyakinkan orang afrika akan adanya “ink” kesesamaan antarumat manusia. hanya dengan berinteraksilah, seseorang mengetahui kualitas ke-manusia-annya. Orang suku Zulu bilang, “umuntu ngumuntu ngabantu”, yang berarti bahwa seseorang adalah orang melalui orang lain. kira-kira ubuntu itu seperti Siri na Pacce-nya orang bugis-makassar, misalnya dalam ungkapan “seseorang baru dikatakan manusia jika dia menjaga harkat dan martabat dirinya dan dengan sesamanya”.

lebih jauh, ubuntu menjadi dasar kerja pengorganisasian orang afrika. satu buku yang ditulis Chiku Malunga (preview): understanding organizational leaership trough ubuntu (2009) menjabarkan prinsip-prinsip tradisi “ber-ubuntu” yang menginspirasi kepemimpinan organisasi modern. beberapa prinisp yang dimaksud adalah…sharing and collective ownership of opportunities, responsibilities and challenges, the importance of people and relationships over things, participatory leadership and decision making, loyalty, reconciliation, experiential learning and knowledge management. semua ini mengingatkan kita pada keberhasilan gerakan apartheid yang dipimpin nelson mandela. suatu gerakan pembebasan kaum tertindas dengan rekonsiliasi tanpa balas dendam ras atau pun rasisme, alias humanisme mandela dan desmon tutu.

prinsip-prinsip transformasi berorganisasi seperti ini banyak kemiripannya dengan prinisip dasar gerakan sosial baru (new social movements) di amerika latin. paulo freire mengembangkan pendidikan kaum tertindas dengan kerja pembebasan manusia dari dehumanisasi atas dirinya dan kepada orang lain. di indonesia, pilipina, dan korea selatan, praksis gerakan sosialnya sangat dipengaruhi model tranformatif paulo freire.

orang afrika boleh bangga karena bahasa dan cara pandang dunianya sudah diadopsi oleh pegiat IT. sesuatu yang langka di daratan asia dan afrika, negeri-negeri yang dianggap terbelakang oleh barat. sistim ubuntu adalah pengembangan sistem operasi lynux. dimana prinsip utamanya adalah berbagi pengetahuan, informasi dan teknologi. para pegiat dan pendung lynux meyakini bahwa pengetahuan seharusnya tidak diperjualbelikan. mereka memperkenalkan “opensource”, yang mencakup empat macam kebebasan (freedom): (1) kebebasan untuk menjalankan program untuk tujuan apa saja; (2) kebebasan mempelajari cara kerja program itu, dan menyesuaikannya dengan kebutuhan pengguna; (3) kebebasan menyebarluaskan kembali hasil salinan perangkat lunak tersebut sehingga dapat membantu sesama pengguna; (4) kebebasan untuk meningkatkan kinerja program, dan dapat menyebarkannya kepada publik sehingga sama-sama menikmati keuntungan.

sebegitu gencar gerakan “opensource” ini sehingga linux/ubuntu dianggap ancaman oleh para pencipta dan pegiat microsoft. sebagaimana yg kita ketahui, kekuatan microsoft terletak pada hak paten dan monopoli perdagangannya. microsof telah melahirkan orang kaya baru di bidang IT, sehingga kekayaan bill gates – sang pencipta microsoft tidak terhingga saat ini. jadi, tdengan menggunakan perangkat lunak linux, yang serba subsidi. gratis, bebas – sesungguhnya anda melakukan counter-hegemoni. dengan begitu, mempromosikan prinsip-prinsip ubuntu.

mks05/07/11 – @wi_urbanist

copas dari note Awin Mn

Iklan