Selamat Hari Ibu

Ibu …
kata temanku hari ini hari ibu, meski saya tak tahu kebenaran hari ibu itu dan saya juga tak tahu alasan kenapa hari ini dikatakan hari ibu tapi ketahuilah karena alasan itulah aku tulis surat ini.

Ibu …
sebahagian besar teman-temanku memberikan kado yg manis pada ibu mereka. Ada yg memberi benda-benda yang kira-kira disukai oleh ibu mereka. Teman yg mementingkan persoalan harga memberi benda yang harganya mahal sementara teman yg melihat substansi sebuah hadiah tidak mempersoalkan harga banyak diantara mereka yg memberi benda yg harganya murah namun sangat berarti seperti bunga atau coklat. Ada juga teman yg membuat sebuah puisi, sajak, atau sebuah lagu yg didedikasikan khusus untuk ibu mereka. Oh iya, ada juga teman yg memberikan hadiah pada ibu mereka “kebebasan untuk tidak mengerjakan apapun pada hari ibu”. Ibu-ibu mereka tentu sangat bahagia menerima persembahan-persembahan anak-anak mereka. Aku, maaf ibu … bersama surat ini aku juga mengirimkan sebuah kado spesial untukmu. Saya yakin ibu sudah membuka kado itu dan sudah melihat isinya, kalau pun belum semoga dengan membaca surat ini ibu tidak lagi kaget melihat isi kadoku dan bisa memahami alasanku menjadikan HATI-ku sebagai kado-mu.

Ibu, aku berikan hati-ku karena di tanah tempatku tinggal sekarang hati tak pernah lagi dipakai. Aku takut kalau aku terus membawanya bisa-bisa hatiku rusak karena tak pernah dipakai karena itulah aku berpikir mungkin lebih baik jika aku menghadiahkan hati-ku untukmu. Aku mengirim kado dan surat ini menggunakan jasa penitipan kilat yg memberi jaminan kiriman dapat sampai secepat mungkin dengan harap hati-ku masih segar saat sampai pada-mu, jadi ibu masih punya kesempatan untuk mengawetkannya dengan memasukkannya dalam salah satu toples kue yg ibu punya lalu memasukkannya dalam lemari es yg aku belikan sebulan lalu.

Ibu …
dengan hati-ku ditangan-mu, kau tidak perlu lagi khawatir tentang diriku karena hati-ku tentu akan selalu terjaga ditangan ibu. Biarlah aku di tanah tempatku tinggal tak lagi menggunakan hati, ibu tak usah khawatir karena disini semua orang tak menggunakan hati. Tanpa hati hidupku bisa menjadi lebih baik, aku menjadi sama dengan orang-orang pada umumnya. Mencari sesuap nasi tanpa menggunakan hati. Oh iya, tanpa menggunakan hati tidur dan makanku jadi lebih enak. Tak ada lagi kegelisahan saat tidur, tak ada lagi perasaan ingin muntah saat aku dimeja makan meski aku makan sambil membaca berita disebuah media lokal tentang kematian seorang anak kecil dari keluarga miskin akibat kelaparan. Rencana untuk tidak menggunakan hati sebenarnya sudah lama terbersit dalam pikiranku namun aku masih mempertimbangkan banyak hal bahkan sampai saat membukusnya untuk dijadikan kado masih terasa sangat berat. Tapi ibu tak perlu resah dengan perasaan berat yg aku rasakan, karena saat dia telah terkirim aku jadi merasa lapang dan aku yakin tentu ibu akan bersedia meminjamkan aku jika suatu saat penggunaan hati kembali menjadi tren di tanah tempatku tinggal untuk kemudian aku kembalikan lagi jika tren itu berlalu lagi.

Ibu …
Aku yakin disana pasti kau tersenyum bangga dan tidak menyesal karena telah melahirkan seorang anak yg menghadiahkan hati-nya pada ibunya. Oh iya … hampir lupa, mungkin paling lambat 2 hari kedepan ibu juga akan menerima impian-impian lamaku. Aku sementara mencari media penyimpanan yg pas. Di sini impian-impian ku yang dulu juga tak berguna karena di tanah tempatku tinggal sekarang impian-impian baru yg lebih gemerlap sangat mudah diraih, cukup hanya dengan beberapa lembar uang saja kita sudah bisa memperolehnya. Di sini impian-impian banyak dijajakan di toko-toko, di butik-butik, di supermarket-supermarket, di mal-mal, dan dipusat-pusat perbelanjaan. intinya seperti itulah impian-impian di sini, karena itu aku berpikir tentu ada baiknya impian-impian lamaku saya simpan dalam media penyimpanan dan menitipkannya pada ibu. Siapa tau kapana-kapan saya membutuhkannya lagi, paling tidak sebagai referensi dalam menata impian-impian baru.

Ibu …
Jam disini sudah menunjukkan pukul 3 dini hari, aku harus segera istirahat karena besok harus kerja.
Salam untuk tante, nenek, ibu penjual sayur langgananmu, ibu pemilik toko campuran disebelah rumah, dan ibu-ibu lainnya.

Ibu, semoga kado yg aku berikan bisa membuat ibu bahagia.

Saya selalu menyayangi ibu, seperti ibu menyayangi diriku.

 

 

Salam Sayang dan Rindu
dari

Anak-mu Yang Tak Ber-HATI Lagi

 


NB : Maaf kalau masih ada darahnya, aku tergesah-gesah mencuci dan membungkusnya. Semoga darahnya tidak mengotori pakaian ibu yg bersih

Iklan